Selasa, 06 Mei 2014 | By: Unknown

Memori dalam Secarik Genggaman

Di antara hari-hariku yang terlihat sibuk, aku menyempatkan diri pulang ke rumah, padahal biasanya aku sangat malas untuk pulang ke rumah karena suatu alasan.
Di rumah, aku membantu ibuku untuk mencari buku yang akan dipakai adikku mengerjakan tugas sebelum ujian kelulusan sekolah. Ketika aku dan ibuku membuka sebuah kardus, aku menemukan sesuatu.

Beberapa album foto yang lumayan usang.

Begitu ibuku pergi ke dapur, aku mengambil album foto itu dan membukanya. Jujur, ketika pertama kali aku melihat foto di dalamnya, aku hampir tidak bisa mengenali pemuda yang berdiri di samping ibuku yang masih belum berjilbab. Dan setelah kuamati dengan seksama, ternyata benar, itu adalah ayahku.
Kubalik lembar demi lembar album foto itu. Senyuman ibuku yang begitu manis terpatri di wajahnya dalam foto-foto usang itu. Berfoto berdua bersama ayahku sebelum mereka menikah. Berfoto di rumah teman, di pantai, dan di berbagai tempat lain. Wajah mereka berdua tampak bahagia.
Sungguh, selama aku hidup hingga hari ini, aku tidak ingat apakah ibuku pernah tersenyum seperti itu ketika sedang bersama ibuku.
Dan begitu aku melihat album foto tersebut, aku harus mengakuinya. Aku harus mengakui bahwa ayah dan ibuku pernah memiliki momen bahagia seperti. Momen bahagia sepasang insan yang hendak menikah. Momen bahagia sepasang insan yang tak mengetahui apa yang akan mereka hadapi kelak.
Tetesan air mata ini sungguh tak dapat kutahan. Momen-momen bahagia tersebut hanya dapat kulihat dalam secarik foto usang. Dalam secarik kenangan. Sebuah memori dalam secarik genggaman.

0 komentar:

Posting Komentar