Di sana. Di bawah guyuran hujan yang semakin deras. Di antara bunga-bunga berwarna-warni yang semakin
basah setiap detiknya.
Di sanalah dia. Duduk diam sembari memeluk kedua lututnya. Tatapan matanya
lurus ke depan, tampak tak terganggu oleh apapun dan siapapun. Ia terus duduk
diam, tenggelam ke dalam pikirannya sendiri. Bergeming.
“Kau tidak apa-apa?”
Ia mendongak. Kini aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Matanya sembab
dan ia tampak stres. Gadis itu terus menatapku selama semenit lalu kemudian ia
kembali pada posisi awalnya setelah menggeleng pelan.
“Kau mau ikut denganku? Di sini hujan, nanti kau bisa sakit,” aku
menawarkan bantuan sambil mengulurkan tangan. Ia kembali mendongak menatapku.
“Kau siapa?” tanyanya.
“Aku hanya kebetulan lewat. Mungkin aku bisa membantumu. Ohya, namaku
Retha,” jawabku sambil tersenyum. Ia memandangku dan tampak menimbang-nimbang.
Dan beberapa saat setelahnya, ia pun menyambut uluran tanganku dan bangkit
berdiri.
“Mika,”
**
Aku dan Mika telah berteman. Berawal dari pertemuan kami di bawah hujan,
kini kami bisa menjadi teman. Memang tak setiap saat aku bisa bertemu
dengannya, apalagi rumahnya lumayan jauh dari rumahku.
Menurutku, Mika itu ceria, lembut, dan rajin. Hanya saja ada satu yang
membuatku penasaran. Ia masih belum memberitahuku alasan dia menangis di bawah
hujan.
Suatu hari, pada saat libur sekolah, Mika mengajakku jalan-jalan keluar
karena katanya ia tidak kuat berada di rumah terus. Aku pun menyetujui
ajakannya setelah benar-benar memastikan bahwa ibu mengijinkanku. Aku tidak
pernah keluar rumah bersama teman sebelumnya.
Aku dan Mika berjalan menuju perpustakaan kota. Mika senang sekali
membaca, sehingga ia tampak senang ketika aku bilang bahwa aku ingin pergi ke
perpustakaan kota.
Sesampainya kami di perpustakaan kota, Mika langsung berjalan menuju
rak-rak berisikan novel dan sejarah penemuan. Beberapa saat kemudian, Mika
kembali dengan beberapa buku dalam pelukannya dan kami pun segera mencari duduk
untuk membaca buku-buku itu.
“Eh, eh, kalian ingat tugas minggu lalu?”
“Yang apa? Oh, yang itu. Iya, iya, aku ingat,”
“Emangnya kaya gitu ya? Anak-anak yang berasal dari keluarga broken home
itu biasanya jadi anak nakal, suka memberontak. Malahan katanya kebanyakan jadi
pecandu narkoba pada akhirnya,”
Aku menoleh ke belakang. Di meja di belakang kami, ada tiga orang anak
laki-laki yang tampak mendiskusikan sesuatu. Aku yang tidak begitu tertarik
kembali menaruh perhatianku pada buku yang kubaca. Tapi beberapa saat kemudian,
aku kembali menangkap pembicaraan tiga anak itu.
“Apaan tuh, paling juga mereka begitu buat narik perhatian,”
“Eh, jangan bilang gitu lah. Kamu kan ga tau kaya gimana jadi mereka,”
“Ya ampun, Don. Lihat tv dong. Di film-film juga ga setragis itu kan.
Mereka bisa cepat bangkit gitu. Yang di kehidupan nyata itu yang
melebih-lebihkan,”
“Tapi pada akhirnya anak-anak dari keluarga broken home itu sikapnya
berubah semua. Kebanyakan cari rusuh, jadi anak nakal, jadi pecandu narkoba.
Hii, ngeri,”
Aku menghela nafas mendengar kata-kata mereka. Tapi kemudian, sudut mataku
menangkap gerakan Mika. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat, bahkan tangannya
sampai gemetar. Matanya tampak marah.
“Mi-mika? Kamu…kenapa?” aku mengangkat tanganku dan memegang pundaknya.
Tapi ia langsung menepis tanganku dan berlari pergi dari perpustakaan. Aku pun
langsung menyambar tasku dan berlari mengejar Mika.
Di tikungan jalan, aku akhirnya bisa mengejar Mika. Aku memegang tangannya
sehingga ia tidak bisa berlari lagi. Tapi Mika langsung menoleh dan menatapku
tajam. Setelah itu ia mengibaskan tanganku dengan keras sehingga tangannya
bebas dari tanganku dan ia kembali berlari pergi.
Aku menatapnya yang terus berlari pergi. Ada apa dengannya…
Beberapa hari setelah hari itu, aku baru tahu alasannya. Alasan atas
semuanya. Aku menatap Mika yang duduk diam di sebelahku. Matanya tampak
memancarkan kemarahan.
Dan ia kembali menangis.
Ia mengatakan bahwa ia tidak kuat tinggal di rumah itu. Ia ingin pergi ke
tempat lain. Keadaan di dalam rumah itu membuatnya stres.
“Dasar cengeng,”
Mika langsung mendongak menatapku begitu aku berkata begitu. Ia menatapku
tak percaya.
“Cengeng?” tanyanya.
“Itu namanya melarikan diri kan? Itu sudah tiga tahun yang lalu, kan?
Kenapa sih kamu masih nangis?” aku menatapnya dengan wajah sebal.
“Benar kan, apa perkiraanku,” ia memejamkan mata, kemudian ia tertawa.
“Kau tidak ada bedanya dengan orang lain,”
“Loh, aku bukannya tidak ada bedanya dengan orang lain. Tapi kamunya yang
terus-terusan minta dingertiin. Rasanya mendramatisir, tahu gak sih,” ucapku
tanpa pikir panjang. Seketika itu juga Mika langsung berdiri.
“Kamu kira ini gampang? Masalah seperti ini gampang? Gampang buat kamu
bilang gitu, keluargamu gak ada masalah!” ucapnya dengan sedikit berteriak.
“Tapi yang penting orang tuamu masih ada kan? Cuma pisah kan? Apa
masalahnya?” aku pun ikut berdiri.
“Kamu gak tahu gimana rasanya, Retha! Kamu gak pernah jadi aku, kamu gak
pernah ada di posisiku, kamu gak pernah tahu gimana rasanya jadi aku! Dan
sekarang kamu bilang apa masalahnya? Masalah! Ini semua masalah! Kamu gak tahu
bagaimana tersiksanya aku lihat keluargamu yang baik-baik aja!” kali ini Mika
benar-benar berteriak. Air matanya benar-benar terjatuh dengan deras. Ia
menatapku dengan tatapan kemarahan. Aku tertegun mendengarnya.
“Aku…aku minta maaf…” aku menunduk.
“Kamu..Jangan pernah menghakimi orang seenaknya sendiri. Coba kamu
bayangkan, kamu ada di posisi orang itu. Kamu gak akan pernah tahu gimana
rasanya jadi orang itu, jadi jangan sekali-sekali kamu mengatakan hal macam
begitu. Mengerti?!” ia berjalan meninggalkan rumahku dan membanting pintu
depan. Aku langsung menyusulnya. Aku membuka pintu depan yang sesaat sebelumnya
dibanting oleh Mika. Aku memandang Mika yang berjalan semakin jauh di bawah
guyuran hujan. Hujan kali ini begitu deras. Mengingatkanku pada saat aku
pertama bertemu dengan Mika. Saat Mika mengatakan bahwa ada bagian dalam
dirinya yang tidak seperti kebanyakan orang. Dan aku baru mengerti apa yang dia
maksud.
Sejak itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengan Mika.
0 komentar:
Posting Komentar