Kamis, 24 April 2014 | By: Unknown

Ketakutan Paling Mendasar

Apa ketakutanmu yang paling mendasar?
Tidak lulus sekolah? Tidak bisa bertemu dengan idolamu? Tidak bisa mendapatkan nilai yang bagus dalam pelajaran di sekolah? Atau... takut tidak bisa memiliki pacar padahal kau hampir berusia 17 tahun?
Mungkin itu adalah beberapa-atau mungkin semua?-ketakutan yang kalian miliki?
Tapi di sini, aku akan menceritakan tentang ketakutanku yang paling mendasar.
Tentang keluargaku.



'Ada apa dengan keluargamu? Tidak rukun ya?'

Bila kalian bertanya seperti itu, maka aku akan tertawa. Keluargaku bahkan sudah tidak rukun sejak aku masih berusia beberapa bulan di dunia ini. Aku tidak pernah merasakan merasakan memiliki keluarga yang 'normal' seperti keluarga yang lain.

Tidak. Bukan itu.

Aku takut memiliki seorang ayah.

'Lho? Kenapa? Bukannya kau malah harusnya bahagia?'

Sedari kecil, hal yang paling aku pahami dari seorang 'ayah' yang 'pernah' aku miliki adalah... dia adalah orang yang paling sering membuat ibuku sakit, membuat ibuku menangis, membuatku harus berpikir seperti anak SMA ketika aku masih SD, membuatku jadi jembatan di antara kedua orang tuaku ketika mereka ingin berkomunikasi, membuatku jadi orang yang sangat perhitungan terhadap uang, membuatku jadi anak yang memiliki memori tentang percobaan bunuh diri ketika umurku baru hampir 7 tahun, membuatku bersembunyi di bawah meja makan ketika mereka bertengkar di usiaku yang mungkin baru saja 6 tahun, dan membuatku mengetahui tentang perselingkuhan sejak usia 5 tahun.

Itu semua dilakukan oleh ayahku.

Aku memiliki memori seperti itu semenjak aku kecil. Dan memori itu sudah pasti melekat hingga aku dewasa, mungkin hingga aku meninggal nanti. Konsep dasar tentang seorang 'ayah' yang ada di dalam keluargaku.

Trauma. Ya. Memiliki seorang laki-laki di dalam keluarga membuatku menjadi sangat trauma. Membuatku menjadi sangat takut. Mungkin kalian akan berpikir, 'Halah, sok-sok'an. Sok sok takut. Sok mau dikasihani gitu? Gitu aja kok trauma. Cih, sok,' . Tapi apa kalian tahu rasanya ada di posisiku? Yang tumbuh dalam keluarga yang seperti itu? Menjadi anak pertama dari keluarga seperti itu bukanlah sebuah pilihan yang bisa aku hindari. Apa kalian tahu rasanya tidak pernah merasakan memiliki keluarga yang benar-benar akur? Hh, aku bahkan lupa kapan terakhir kali ayah dan ibuku saling melempar senyum. Yang aku ingat adalah ayah ibuku yang saling berteriak dan menjerit di dalam rumah.

Dan ketika sekarang aku dihadapkan pada pilihan yang kemungkinan akan menjadi kenyataan, yaitu ibuku akan menikah lagi yang artinya aku akan memiliki seorang ayah baru, itu membuatku berpikir keras. Di satu sisi, aku menyetujuinya karena tidak tega melihat ibu dan adik perempuanku. Di satu sisi, aku takut. Aku takut memiliki seorang ayah. Seorang 'ayah' yang ada dalam pikiranku adalah seorang laki-laki egois yang bisa setiap saat mencampakkan kami lagi. Aku takut. Sungguh, aku takut.

Tapi di lain pihak, aku juga ingin tahu rasanya memiliki seorang ayah. Seorang ayah yang normal, sebuah keluarga yang normal. Aku ingin merasakan apa yang tidak pernah aku rasakan. Aku ingin memiliki memori tentang ayah yang 'baik'.

Tapi kembali pada pembahasan awal. Aku takut memiliki seorang ayah karena aku takut kalau kami akan dicampakkan kembali. Aku cukup bahagia dengan hanya bersama ibu dan adikku. Tapi tentu saja itu tidak cukup. Kami perlu hidup, kami perlu pelindung, adikku perlu pembimbing (jangan hitung aku, karena aku sudah memutuskan untuk belajar dari teman-temanku).

Sungguh, penantianku akan hari dimana aku akan memiliki seorang ayah kembali dalam keluarga adalah sebuah penantian yang membutuhkan penataan hati dan persiapan diri. Aku benar-benar tak tahu apakah aku bisa, apakah aku kuat. Tapi aku harus. Aku harus kuat. Dan aku harap aku bisa membuang konsep dasar tentang ayah yang selama ini melekat di memori dasarku.

0 komentar:

Posting Komentar