Kamis, 15 Agustus 2013 | By: Unknown

"Ketegaran Seorang Anak" dibalik Sebuah "Perceraian Orangtua"

Apakah ada di antara kalian yang mendengar kalimat "anak yang berasal dari keluarga yang tidak harmonis cenderung berperilaku menyimpang" dalam pelajaran Sosiologi?
Bila kalian menjawab tidak pernah, mungkin kalian tidak memperhatikan pelajaran Sosiologi atau kalian tidak pernah mendapat pelajaran Sosiologi.
Kalimat yang aku tulis di atas itu benar-benar pernah diucapkan oleh guru Sosiologi di sekolahku. Bahkan beliau pernah berkata, "Coba kalian cari gambar anak-anak yang berasal dari keluarga yang harmonis dengan anak-anak yang berasal dari keluarga yang orangtuanya telah bercerai. Kemudian bandingkan."
Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kalimat di atas?
Kalian setuju?
Kalian berpikiran sama dengan guru itu?
Bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga dimana orangtuanya telah bercerai cenderung berperilaku menyimpang dan bertindak semaunya?
Apakah kalian berpikiran seperti itu?

Apa kalian pernah membayangkan jika kalian berada di posisi anak tersebut?



Sebuah perceraian, tidak hanya membawa dampak bagi kedua belah pihak (pihak lelaki dan pihak perempuan) namun juga membawa dampak bagi anak-anak mereka. Dampak psikologi adalah dampak yang paling nyata dan paling mendalam. Psikologi anak-anak mereka pasti akan terganggu, dan mereka akan mengingat peristiwa "percerain kedua orangtua" mereka untuk selama-lamanya.

Setiap anak pasti akan menanamkan sebuah pengertian "keluarga" dalam pikiran mereka. Keluarga adalah suatu bentuk dimana ayah, ibu, dan anak-anak mereka berkumpul bersama. Saling menghargai, saling mengasihi, saling mencintai, dan saling menjaga. Seorang anak pasti sangat mendambakan mempunyai ayah dan ibu yang selalu rukun dan saling mengasihi.

Tapi pengertian itu akan segera hancur ketika surat perceraian dari orangtuanya sampai di pengandilan agama.

Bentuk "shock berat" tidak hanya dirasakan oleh orangtua, namun juga anak-anak mereka. Mereka akan kehilangan arah tentang pengertian sebuah "keluarga". Karena orangtua mereka tidak lagi bersama. Kenapa terasa sangat menyakitkan? Karena kedua orangtua biologis mereka masih hidup. Dan ketika ia harus memilih -atau pengadilan yang memilihkan untuknya- satu di antara orangtua biologisnya, sementara orangtua biologisnya yang lain bersama dengan orang lain, memiliki anak kandung yang lain, dan bahkan menyayangi anak yang lain itu lebih dari dia menyayangi anak dari pernikahan yang sebelumnya.

Sebuah keinginan untuk disayang oleh kedua orangtuanya secara penuh akan langsung melebur bersama dengan derasnya hati menangis.

Frustasi. Kata itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan suasana hati anak ketika orangtuanya bercerai. Suasana hatinya seketika kacau dan ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Itulah titik penting dari perubahan seorang anak.

Kenapa banyak yang mengatakan bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga yang tidak harmonis cenderung melakukan pernyimpangan sosial?

Karena mereka menginginkan sebuah pelampiasan dari apa yang mereka rasakan. Dengan hati yang tidak menentu, bisa saja mereka pada akhirnya terjerumus ke dalam dunia yang salah. Contohnya adalah balapan liar, minum-minuman keras, mengamuk di keramaian, dan lain-lain. Tapi apakah semua anak yang berasal dari keluarga yang tidak harmonis akan berakhir sama?

TIDAK!!

Andai ada orang yang mengatakan hal tersebut di depanku, aku akan langsung meninju orang itu.

Tergantung dari pilihan anak itu. Apakah ia akan memilih jalan yang salah, atau mencari jalan alternatif lain. Tidak semua anak akan berakhir sama. Walau ada beberapa bagian yang sama. Yaitu :
1. Tidak akan pernah mengungkit-ungkit hal tersebut lagi, jika tidak terlalu butuh.
2. Merasa sangat terbebani ketika melihat anak lain bahagia bersama kedua orangtua mereka.
3. Akan menghindar dari pertanyaan yang menjerumus pada topik orangtua.
4. Menutup mulut, telinga, dan mata rapat-rapat pada topik tentang orangtua.
5. Akan menjadi sangat emosional ketika ia terjebak pada sebuah pembicaraan dengan topik tentang orangtua.
6. Terkadang bertindak seenaknya karena frustasi.

Seorang anak akan berusaha tegar dalam menyikapi perceraian orangtuanya. Berusaha menyikapinya dengan santai, walau ia tahu bahwa ia tidak bisa. Ia tidak kuat. Tapi ia tetap berusaha.

Jadi, apakah kau sudah bisa membayangkan dan menempatkan dirimu pada posisi anak yang menjadi korban dari perceraia orangtuanya?
Kalau belum, coba baca artikel ini berulang-ulang dan coba resapi.
Maka kau akan tahu betapa beratnya menjadi anak korban perceraian orangtua.

Salam.

0 komentar:

Posting Komentar